-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Biografi KH. R. Abdul Halim (Ajengan Elim): Ulama Kharismatik Cianjur

Senin, 10 Februari 2025 | 10.36 WIB | 0 Views Last Updated 2025-02-10T03:36:42Z

 

Kebersamaan KH. Raden Abdul Halim (Ajengan Elim) bersama KH. Ma'ruf Amin pada 14 Februari 2024. (Foto: Viva) 


KH. R. Abdul Halim, yang lebih dikenal dengan sebutan Ajengan Elim, adalah sosok ulama besar dari Cianjur yang penuh hikmah, kelembutan, dan dedikasi tinggi dalam pengabdian kepada umat. Selama hidupnya, beliau memberikan kontribusi luar biasa dalam dunia dakwah, pendidikan Islam, serta pembinaan masyarakat, baik melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur, Pondok Pesantren Al-Muthmainnah, maupun berbagai program sosial keagamaan lainnya.


Kepergiannya pada Ahad malam Senin, 9 Februari 2025, pukul 22.30 WIB di RSUD Kelas I Sayang Cianjur meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat luas. Namun, warisan ilmu dan perjuangannya akan selalu menjadi inspirasi bagi umat Islam, khususnya di Cianjur.



Kelahiran dan Keluarga


KH. R. Abdul Halim lahir pada 7 Agustus 1933 M di Cianjur, dari pasangan Abdul Mufahir dan Siti Rahmah. Beliau merupakan anak tunggal dari kedua orang tuanya, tetapi memiliki 14 saudara tiri—7 saudara seibu dan 7 saudara sebapak.


Sejak kecil, Ajengan Elim tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan pendidikan Islam. Kakeknya merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Muthmainnah, sehingga beliau mendapatkan bimbingan keislaman sejak usia dini.



Pendidikan dan Perjalanan Ilmu


Ajengan Elim memulai pendidikan formalnya di Sekolah Dasar Kesatriaan saat berusia 6 tahun. Namun, karena dinamika politik saat itu, sistem pendidikan Belanda digantikan oleh sistem pendidikan Jepang pada tahun 1943. Hal ini membuat beliau hanya menyelesaikan pendidikan formalnya hingga setingkat SD.


Meskipun pendidikan formalnya terbatas, beliau tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Kakeknya menjadi guru utama dalam membimbing beliau mendalami ilmu agama Islam, tafsir, fiqih, dan hukum Islam. Kemampuannya dalam bidang keislaman diakui luas, bahkan ilmunya dianggap setara dengan profesor dalam bidang syariah.


Berkat kedalaman ilmunya, pada tahun 1959, pemerintah mengangkat beliau sebagai Hakim Agung Luar Biasa di Pengadilan Agama Kabupaten Cianjur, meskipun tanpa latar belakang pendidikan tinggi formal.



Perjalanan Kepemimpinan di MUI dan Peran Besar bagi Cianjur


Pada tahun 1979, Ajengan Elim diangkat menjadi Ketua MUI Kabupaten Cianjur, menggantikan ulama sebelumnya. Jabatan ini beliau emban selama 40 tahun hingga tahun 2019, menjadikannya Ketua MUI terlama dalam sejarah Cianjur.


Sebagai Ketua MUI, Ajengan Elim dikenal sebagai sosok yang tenang, bijaksana, dan penuh pertimbangan dalam menyikapi berbagai permasalahan umat. Beliau dihormati tidak hanya oleh masyarakat umum tetapi juga oleh tokoh-tokoh pemerintahan, termasuk Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, serta berbagai menteri dan pejabat tinggi negara yang kerap datang menemui beliau.


Salah satu program monumental yang digagasnya adalah Gerakan Pembangunan Masyarakat Berakhlakul Karimah (Gerbang Marhamah), yang kemudian menjadi semboyan Kabupaten Cianjur. Selain itu, beliau juga berhasil:


  • Menangani penyebaran ajaran sesat Ahmadiyah di Cianjur hingga pengikutnya tidak lagi ada.
  • Mensejahterakan DKM Masjid Agung Cianjur dengan mendirikan toko buku dan klinik kesehatan.
  • Menyusun fatwa dan pedoman keagamaan yang menjadi rujukan umat Islam di Cianjur.

Beliau juga dipercaya sebagai Penasehat Bupati Cianjur, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam kebijakan keagamaan dan sosial di daerahnya.



Peran di Pondok Pesantren Al-Muthmainnah


Sejak usia 30 tahun, Ajengan Elim menjadi pimpinan Pondok Pesantren Al-Muthmainnah, menggantikan kakeknya yang wafat. Pesantren ini menjadi pusat pendidikan Islam yang menghasilkan banyak ulama dan dai di Cianjur.


Salah satu tradisi unik yang beliau pertahankan adalah pengajian rutin yang terbagi sebagai berikut:


  • Hari Minggu: Pengajian khusus bapak-bapak.
  • Hari Kamis: Pengajian ibu-ibu, yang juga menjadi ajang Pasar Kemisan—pasar yang muncul di sekitar pesantren karena banyaknya jamaah ibu-ibu yang hadir.
  • Hari Sabtu: Pengajian khusus bagi para ajengan dan ulama.

Keberadaan Pasar Kemisan ini menjadi fenomena sosial tersendiri, menunjukkan besarnya pengaruh beliau dalam masyarakat.



Kehidupan Keluarga


Ajengan Elim menikah dengan Hj. Aisyah, yang kemudian wafat. Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai 9 anak, yang kemudian memberinya 36 cucu dan 18 cicit. Pada tahun 2002, beliau menikah lagi dengan Hj. Ida Rosidah, yang mendampingi beliau hingga akhir hayatnya.

Meskipun memiliki keluarga besar, beliau tetap hidup sederhana dan lebih banyak mengabdikan dirinya untuk umat.



Akhir Hayat dan Warisan Keilmuan


Pada 9 Februari 2025, Ajengan Elim berpulang ke rahmatullah di RSUD Kelas I Sayang Cianjur pada pukul 22.30 WIB. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat luas.


Jenazah beliau dimakamkan dengan penuh penghormatan, diiringi ribuan jamaah yang datang dari berbagai penjuru untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ulama besar ini.


Meskipun telah tiada, ilmu dan perjuangan beliau tetap hidup. Pesantren yang beliau pimpin, program yang beliau inisiasi, serta bimbingan yang beliau berikan kepada umat menjadi warisan yang akan terus mengalirkan pahala baginya.



Kesimpulan


KH. R. Abdul Halim (Ajengan Elim) adalah sosok ulama kharismatik yang sulit tergantikan. Dengan ilmu yang luas, ketenangan dalam menghadapi masalah, serta dedikasi tinggi dalam membangun umat, beliau telah memberikan kontribusi luar biasa bagi Cianjur dan masyarakat Islam pada umumnya.


Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni segala dosa beliau, menerima seluruh amal kebaikannya, serta menempatkan beliau di surga tertinggi bersama para nabi dan shalihin.


اللهم اغفر له، وارحمه، وعافه، واعف عنه، وأكرم نزله، ووسع مدخله، واغسله بالماء والثلج والبرد، ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، وأبدله دارًا خيرًا من داره، وأهلاً خيرًا من أهله، وأدخله الجنة، وأعذه من عذاب القبر وعذاب النار. آمين.


Selamat jalan, Ajengan Elim. Ilmu dan perjuanganmu akan selalu menjadi cahaya bagi kami.


×
Berita Terbaru Update