-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Sejarah Cianjur 39 : Raden Ajeng Tjitjih Wiarsih / Juag Cicih (21 April 1901 – 13 Oktober 1964)

Jumat, 28 Maret 2025 | 12.00 WIB | 0 Views Last Updated 2025-03-28T05:00:41Z
Raden Ajeng Tjitjih Wiarsih


Bupati Cianjur RAA. Prawiradiredja II berputra 4 orang yakni:

1. Rd. Prawiraningrat
2. Nyi Raden Ajeng Cicih Wiarsih.
3. Nyi Raden Ajeng Widarsih.
4. Raden Alibasah.

Namun tiga anak Dalem Marhum tidak berumur panjang, yang masih hidup dan memiliki kisah bersejarah bagi Cianjur adalah Rd. Ajeng Cicih Wiarsih yang dikenal luas dengan nama Juag Cicih.

Nama Cicih Wiarsih kini hanya digunakan menjadi nama jalan yang tidak begitu panjang di pusat kota Cianjur, persisnya didaerah Bojong Meron. Jalan tersebut dipadati pedagang kaki lima. Bila membaca sejarah hidupnya, penghargaan Pem.Kab. Cianjur bagi Juag Cicih tentu belum sepadan dengan hanya mengabadikannya menjadi nama jalan, apalagi tidak ditempat yang strategis. Perjuangan Juag Cicih untuk tanah air seharusnya dihargai dan dikenalkan kepada khayalak.

Bersama dengan Gatot Mangkupraja pejuang perempuan ini merintis berdirinya PETA (Pembela Tanah Air) di Cianjur. Dan keperduliannya terhadap nasib pendidikan perempuan pribumi Juag Cicih menjadi donatur perjuangan Siti Jenab tokoh emansipasi hingga membangun sekolah bagi wanita pribumi di Cianjur yang kemudian hari dikenal dengan nama SDN Ibu Jenab I dibangun diatas tanah wakaf Juag Cicih.

Bahkan menurut Dadan Sukandar sesepuh Mamaos Cianjuran menyatatakan bahwa Juag Cicih inilah yang menyekolahkan Siti Jenab ke Bandung. Di Bandung Siti Jenab menimba ilmu di sekolah Kautamaan Istri, dan setelah selesai menimba ilmu di Bandung, Siti jenab mendirikan sekolah istri yang murid pertamanya diantaranya adalah Atjah Warsah ibu kandung Dadang Sukandar (Aki Dadan).

Bila melihat perjalan hidupnya, sebagai putri Bupati Cianjur jaman itu, sejak kecil Juag Cicih memang sudah dipersiapkan ayahnya. Pendidikannya diawali dengan menjadi murid Europese Lagere School (ELS) di Sukabumi, tamat dari sekolah ini Juag Cicih melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Bandung. Selesai menuntut ilmu dari HBS pendidikannya dilanjutkan dengan bersekolah di Prink Hendrik Algeme Midelbare School (PAMS).

Tidak saja pendidikan modern, Juag Cicih pernah menuntut ilmu kepada beberapa guru agama di Cikalong diantaranya Nini Emis dan Nini Wiudri seorang istri Naib. Pada saat menimba ilmu di dua perempuan ini ia seangkatan dengan seorang ustad yang dikemudian hari dikenal sebagai tokoh ulama dengan gelar Mama Ajengan Mayak Cibeber. Setamat dari PAMS Juag Cicih diterima menjadi guru di ELS Sukabumi almamaternya.

Kariernya dalam pergerakan dimulai dengan menjadi guru di ELS Sukabumi, kemudian turut merintis berdirinya PETA di Cianjur, menjadi donatur dan penggerak Palang Merah Indonesia (PMI) Cianjur. Diangkat menjadi Ketua PASI (Pasundan Istri) organisasi pergerakan wanita dibidang sosial. Diangkat menjadi Ketua Parkiwa dan menjadi salah seorang pendiri dan donatur Bank Wanita pertama di Cianjur.

Ketika terjadi agresi militer Belanda, Juag Cicih dan keluarganya memilih bergabung dengan para pengungsi. Membantu pengungsi dan para tentara pejuang yang terluka. Rumahnya yang merupakan peninggalan dari R.A.A. Prawiradireja II berkali-kali ditempati tentara Jepang dan Belanda karena dicurigai selalu dijadikan tempat berkumpul para tokoh pergerakan diantaraya Let.Jen TNI-AD Kemal Idris yang pernah menjadi Panglima Kostrad pada tahun 1967.

Raden Ajeng Tjitjih Wiarsih / Juag Cicih dari pernikahan pertamanya dengan Raden Aria Adipati Wiranata Kusumah / Aom Muharam Bupati Cianjur (1912-1920) tidak memiliki keturunan. Setelah bercerai dari Aom Muharam, ia dipinang Raden Ngabehi Muhamad Yakin putra bupati Bondowoso Jawa Timur, dari pernikahan ini dikarunia 5 orang anak yakni :

1. Brigjen TNI-AD (Purn) R.H. Utut Zaenudin
2. Letkol TNI-AD (Purn) Rd. Dicky Zaenudin
3. R.A. Tien Kuraesin 4. R.A. Lili Amatila 5. R.A. Tetet Saleha.

Juag Cicih wafat tahun 1964, dikuburkan di Pasarean Agung Cianjur disamping makam RAA. Prawiradiredja II ayahnya.

×
Berita Terbaru Update