-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Gunung Gede: Sejarah Letusan dan Kondisi Terkini

Kamis, 03 April 2025 | 05.43 WIB | 0 Views Last Updated 2025-04-02T22:43:14Z

Gunung Gede, gunung berapi kerucut tipe A yang terletak di bagian barat Pulau Jawa, Indonesia, memiliki sejarah panjang sebagai salah satu gunung berapi aktif di negeri ini. Gunung ini berada dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional pertama yang diumumkan di Indonesia pada tahun 1980. Gunung Gede terletak di dua wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur dan Sukabumi, dengan ketinggian antara 1.000 hingga 2.962 meter di atas permukaan laut (mdpl).


Kondisi Geografis dan Iklim


Gunung Gede memiliki suhu rata-rata di puncaknya sekitar 13°C pada siang hari dan berkisar 5°C pada malam hari. Pada musim kemarau, suhunya bahkan bisa mencapai -1°C. Curah hujan di kawasan ini cukup tinggi, berkisar antara 3.600 hingga 4.000 mm per tahun. Akses utama menuju puncak Gunung Gede dapat ditempuh melalui jalur Cibodas dan Cipanas (Gunung Putri) di utara, serta jalur Salabintana di selatan yang jarang dilalui oleh pendaki.


Gunung ini diselimuti oleh hutan pegunungan yang kaya akan keanekaragaman flora dan fauna. Kawasan ini mencakup zona submontana, montana, hingga subalpin di sekitar puncaknya, menjadikannya salah satu ekosistem hutan pegunungan yang paling kaya di Indonesia dan kawasan Malesia.


Sejarah Letusan Gunung Gede


Gunung Gede telah mengalami beberapa kali letusan besar yang berdampak signifikan bagi masyarakat sekitar. Berikut beberapa letusan yang tercatat dalam sejarah:


1. Letusan Tahun 1747


Letusan pertama yang tercatat dalam sejarah terjadi pada tahun 1747 dengan skala VEI-3. Letusan ini menyebabkan dua aliran lava mengalir dan terlihat dari Kawah Lanang. Letusan kecil juga terjadi kembali pada tahun 1761, 1780, dan 1832.


2. Letusan Tahun 1840-1841


Pada 2 November 1840, Gunung Gede kembali meletus setelah hampir 100 tahun. Letusan ini terjadi pada pukul 03.00 dini hari dan terasa sangat kuat hingga membangunkan warga sekitar. Letusan ini mencapai skala VEI-3 dan baru benar-benar berhenti pada Maret 1841.


3. Letusan Tahun 1853


Salah satu letusan besar terjadi pada tahun 1853 dengan skala VEI-3. Dampak dari letusan ini sangat besar, menyebabkan pemindahan ibu kota Keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung pada tahun 1864 oleh Residen van der Moor.


4. Letusan Tahun 1957


Pada abad ke-20, Gunung Gede mengalami 24 kali letusan kecil yang cukup membahayakan bagi warga sekitar. Letusan terakhir tercatat pada tahun 1957 dengan skala VEI-2.


Kondisi Terkini


Hingga saat ini, Gunung Gede masih menunjukkan aktivitas vulkanis namun dalam fase normal. Meski demikian, para ahli tetap melakukan pemantauan secara berkala untuk mengantisipasi potensi letusan di masa depan. Jika terjadi letusan besar, kawasan kaki gunung seperti Cipanas diperkirakan akan mengalami dampak paling besar.


Mengingat sejarah letusannya, penting bagi warga dan pendaki untuk selalu waspada terhadap perkembangan aktivitas vulkanik di Gunung Gede. Pemerintah dan pihak terkait juga terus melakukan upaya mitigasi untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat sekitar.

×
Berita Terbaru Update