Siti Jenab lebih dikenal dengan sebutan Ibu Jenab, yang namanya diabadikan menjadi nama sekolah dasar negeri Ibu Jenab I, II, III, dan IV di Cianjur. Namanya juga dijadikan nama jalan di tengah kota, persis dekat dengan alun-alun dan pendopo Cianjur.
Siti Jenab adalah putra ketiga dari delapan bersaudara. Ia dilahirkan tahun 1890. Ayahnya adalah Rd. Martadilaga, putra Rd. Dipamanggala, Patih Purwakarta, sedangkan ibu kandungnya adalah Nyai Rd. Siti Mariah asal Brebes, Jawa Tengah. Siti Jenab juga memiliki saudara-saudara yang rata-rata sukses dalam kariernya, seperti: R.A. Abdurahman (Bupati Mester I / Jatinegara), Nyi Rd. Siti Aisah, Ir. R. Moch. Enoch (insinyur pertama di Indonesia), Ny. Rd. Siti Jenar (Komis I Kantor Pos Cianjur), Nyai Rd. Siti Rukiyah, Rd. Mustarom (Patih, Kepala Volksvoorlichtingdienst di kantor Keresidenan Bogor), Nyi Rd. Siti Kuraesin (Kepala Urusan Pegawai RS CBZ / RS. Ciptomangunkusumo Jakarta sekarang). Bila melihat keberhasilan saudara-saudaranya, nampak jelas bahwa sukses mereka di berbagai bidang dilandasi keberhasilannya dalam pendidikan dan prestasi, bukan semata-mata karena terlahir dari keluarga ningrat.
Pada tahun 1904, Siti Jenab menyelesaikan pendidikan di Hollandsche Inlandsche School (HIS). Dalam usia 14 tahun, seusai sekolah di HIS, ia magang sebagai tenaga pengajar di Tweede Inlandsche School, setingkat sekolah dasar di Joglo, Cianjur. Beberapa tahun kemudian, keperduliannya terhadap pentingnya pendidikan wanita pribumi ia utarakan kepada Bupati Cianjur R.A.A. Wiranatakusumah (Aom Muharam). Ternyata, Siti Jenab mendapat dukungan penuh dari Aom Muharam dan Juag Cicih, istri Aom Muharam. Semula, Siti Jenab diberikan ruangan di belakang pendopo untuk dijadikan kelas pada awal perintisan sekolah istri. Akhirnya, pada tahun 1906, R.A.A. Wiranatakusumah meresmikan Sakola Kautamaan Istri yang dikelola oleh Siti Jenab.
Kiprah Siti Jenab merintis pendidikan perempuan di Cianjur juga tidak lepas dari peran besar Juag Cicih (Rd. Cicih Wiarsih), putri R.A.A. Prawiradirdja. Selain membiayai pendidikan Siti Jenab selama bersekolah di Bandung, Juag Cicih mewakafkan tanahnya untuk sekolah yang dikelola Siti Jenab. Kelak sekolah ini bernama Ibu Jenab I yang tidak jauh dari pendopo Cianjur. Namun sebelum diberi nama menjadi sekolah Ibu Jenab, Juag Cicih yang begitu besar jasanya dalam perjalanan hidup Siti Jenab, sempat ditawari agar nama sekolah tersebut menggunakan namanya. Namun Juag Cicih menolak, ia dengan rela memutuskan nama sekolah tersebut menggunakan nama Ibu Jenab.
Sakola Kautamaan Istri Cianjur merupakan sekolah dengan lama pendidikan selama tiga tahun. Murid yang diterima di sekolah ini adalah mereka yang sudah menamatkan sekolah dasar terlebih dahulu. Namun, pada awal berdirinya, Siti Jenab belum banyak merekrut murid. Lalu atas saran Aom Muharam, Siti Jenab menghadap Tuang Guru Haji Isa, sesepuh pondok pesantren Gedong Asem Kaum Cianjur, untuk meminjam santriwati Gedong Asem sebanyak 27 orang. Santriwati yang dipinjam tersebut sebagai penarik minat masyarakat agar menyekolahkan anaknya di Sakola Kautamaan Istri.
“Heug ku Mama dibere nginjeum, ngan omat santri Mama ulah dirobah dangdananana, tetep kudu make cindung jeung kabaya. Ulah sina make baju siga none-none Walanda.”
(Boleh saja santri Mama dipinjamkan, asal mereka jangan disuruh berdandan gaya none-none Belanda. Mereka harus tetap berjilbab dan berkebaya.)
Demikian pesan Guru Haji Isa kepada Siti Jenab yang akhirnya memberikan izin peminjaman santriwatinya.
Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran berhitung, pengetahuan umum, Bahasa Belanda, Bahasa Sunda, dan Bahasa Melayu. Dan sebagaimana Sakola Kautamaan Istri Dewi Sartika di Bandung, di sekolah ini diajarkan pula keterampilan menjahit, merenda, membatik, dan memasak. Setelah berkembang, sekolah ini dibatasi hanya menerima 80 orang siswi yang terdiri dari pelajar wanita dari latar belakang sosial yang berbeda di Cianjur.
Ibu Jenab juga mengajarkan pentingnya menabung. Setiap siswa setiap hari mengisi kotak kecil yang dimiliki masing-masing sebagai celengan, dan setiap tutup tahun pelajaran celengan tersebut dibuka dan digunakan untuk membiayai kebutuhan para siswa sendiri.
Pada masa Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh (1936–1942), atas usulan Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah V (Aom Muharam yang pernah menjadi Bupati Cianjur), Siti Jenab akhirnya menerima bintang penghargaan Bintang Orange Nassau voor Vrouw en Verdienste dari pemerintah kolonial Belanda karena jasa-jasanya memajukan pendidikan kaum wanita pribumi.
Ketika pecah perang kemerdekaan, Siti Jenab ikut mengungsi ke daerah Sukanagara. Di tempat pengungsian, Ibu Jenab tidak tinggal diam. Ia tetap memberikan pendidikan secara sukarela bagi para remaja dan anak-anak perempuan pengungsi, dan mengajak pula warga pribumi. Hal tersebut dilakukan pula saat ia mengungsi ke daerah Leuwi Manggu, Kadupandak, dan Cibeber.
Tahun 1948, ia kembali ke kota melanjutkan mengelola Sakola Kautamaan Istri hingga pensiun tahun 1950. Ibu Jenab meninggal dunia pada tanggal 28 Februari 1951 dan dimakamkan di Pasarean Agung Cianjur.
Sepeninggalnya, sekolah tersebut terus berjalan. Oleh pemerintah RI, Sakola Kautamaan Istri diganti menjadi Sekolah Rakyat seraya mengabadikan namanya menjadi Sekolah Rakyat Ibu Jenab, hingga kemudian berubah menjadi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ibu Jenab I, II, III, IV hingga sekarang.
Dari pernikahannya dengan T.B. Djatradidjaja, guru HIS Cianjur, dikaruniai lima putra-putri, yakni:
- T.B. Akhmad Sudarsono
- T.B. Akhmad Muhammad
- Rd. Siti Rakhmat
- Rd. Siti Harsini
- Rd. Siti Khaeroni
yang semuanya tinggal di luar Kabupaten Cianjur.